TRADISI KURBAN MANUSIA DI NUSANTARA (PART 3 : Sumatra)

Tradisi kurban manusia di Sumatera

 Di Gomo, Nias, banyak situs megalitikum yang berusia diatas 3000 SM. Daerah situs ini diyakini sebagai tempat leluhur pertama suku Nias. Ada  berbagai benda megalitik disana, salah satunya adalah  batu pancung yang konon digunakan sebagai tempat mengikat tawanan atau orang yang bersalah akibat melakukan kejahatan untuk dipancung. Bila tidak ada orang yang bersalah di daerah tersebut, maka tumbal akan dicari di daerah lain.

Salah satu peninggalan megalitikum Nias

Tradisi inilah yang nampaknya menjadi latar belakang mengapa banyak peperangan terjadi di Nias dulu. Kepala tumbal manusia yang dipancung tersebut bisa digunakan sebagai pilar bangunan. Menurut kepercayaan orang Nias, pilar yang berfondasikan kepala manusia akan lebih kokoh.

Di daratan Sumatera, Tantrisme (sinkretis antara Hindu dan Buddha) berkembang sekitar abad ke 13. Paham ini kemudian terpecah menjadi beberapa aliran, salah satunya adalah aliran Bhirawayang dianut oleh Adityawarman. Bhirawa yang memiliki arti “seram dan mengerikan” , adalah aliran demonic yang menyembah Dewa Heruka. Beberapa menyebutnya sebagai aliran Budha Wajrayana.

Bagian bawah patung Adityawarman

Candi Bahal II

Candi Bahal II di Padang Lawas, 100 kilometer dari Barus, kota pelabuhan di pantai barat Sumatera, dekat Sibolga, yang pada abad 13 dan 14 juga merupakan pusat kegiatan sufi dan penyebaran agama Islam, diduga merupakan salah satu tempat upacara pemujaan Dewa Heruka. Pemujaan terhadap Dewa Heruka dalam Tantrisme Bhirawa biasa dilakukan pada malam hari di tempat pembakaran mayat.

Mayat dibakar di tempat pembakaran yang disebut ksetra dan dijadikan sajian sebagai persembahan kepada dewa mereka. Unsur utama pemujaan adalah pengurbanan nyawa manusia melalui kobaran api yang mendatangkan bau tersendiri dan bau itulah yang menimbulkan ekstase (secara harfiah berarti “melangkah keluar”, pergi melampaui diri, mengatasi pengalaman normal manusia). Semakin memualkan bau daging manusia terbakar, semakin memberi ‘kenikmatan’. Mereka membandingkan bau tersebut dengan keharuman bunga yang mampu membebaskan seseorang dari inkarnasi baru dan saamsara.

Mayat dari manusia yang dikorbankan diletakkan di tempat pemujaan dengan ditelentangkan, kaki dilipat di bawah paha, tangan terikat dan kepala didongakkan. Dengan demikian, isi perut mudah dikeluarkan. Pendeta membelah perut hingga ke rusuk bawah, lalu duduk di atasnya, merenggut jantung keluar dan memenuhi batok tengkorak manusia dengan darah. Beberapa teguk darah diminum dan dibayangkan sebagai anggur sorgawi yang lezat. Setelah itu, api unggun dinyalakan dan para penuntut aliran tenggelam dalam meditasi. Selama meditasi berlangsung, Heruka terbayang melalui kepulan asap.

Ekstase dicapai saat tengah malam tiba. Pada saat demikian, mereka menari-nari mengitari api unggun dengan ‘kentongan’ yang dibuat dari tulang belulang manusia, sambil tertawa terbahak-bahak dan mendengus-dengus seperti banteng. Makin malam, dipercaya bahwa dewa Heruka akan makin senang memperoleh sesembahan dan korban seperti itu. Upacara berakhir dengan persetubuhan massal.

Menurut Majumdar (1937: 121),  tujuan upacara pembakaran kurban manusia adalah untuk mengajarkan penganutnya bagaimana dengan melalui cara kesaktian dapat kaya, panjang umur, perkasa, tidak mempan senjata tajam, dapat hilang dari pandangan orang, dan dapat mengobati orang sakit; atau dalam bentuk yang lebih sakti lagi, apabila berulang-ulang merapal nama Buddha atau Bodhisattwa dapat mengatasi keadaan yang tidak tenang atau mendapat mukjizat untuk dilahirkan kembali dengan kekuasaan dewa yang dipuja.

Diolah dari :

http://sociopolitica.wordpress.com

Bambang Budi Utomo, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Republik Indonesia.

Iklan

TRADISI KURBAN MANUSIA DI NUSANTARA (PART 2 : Sulawesi)

 Tradisi kurban manusia di Sulawesi

Masyarakat Toraja mengenal adat Ma’ Barata (pengurbanan manusia) pada upacara Rambu Solo’ yang masih berlaku sampai masuknya Pemerintah Kolonial Belanda, adalah salah satu adat yang diadakan sebagai penghormatan serta sebagai tanda kepahlawanan/keberanian dari seorang bangsawan atau pahlawan dalam perang. Sejak masuknya kolonial Belanda, maka praktis adat ini dilarang.

Adat Ma’ Barata ini berfungsi sebagai :

1.            Tanda penghormatan kepada seseorang pahlawan yang telah mempertahankan kedaulatan negerinya dan kehormatan keluarganya serta masyarakatnya.

2.     Tanda penghormatan kepada seseorang yang mati dalam peperangan terutana   dalam perang saudara dahulu di Toraja.

3.     Tanda penghormatan kepada seseorang yang berjasa.

Adat Ma’ Barata ini dilakukan pada upacara Rapasan, dan seorang yang menjadi kurban Barata diikat tangannya dan ditambatkan pada Simbuang Batu (batu tugu peringatan pada ups Rapasan yang berdiri di tengah Rante), menunggu saatnya dipancung. Kurban Barata ini bisa laki-laki atau perempuan yang ditangkap saat perang atau jika tidak ada perang maka ditangkap dengan cara Mangaun (mengintip untuk menangkap) dari orang – orang yang telah disepakati oleh para Topadatindo. Menurut kesepakatan Topadatindo yang dipegang oleh penerusnya, yang menjadi korban Barata adalah tawanan dalam perang atau orang – orang yang tidak ikut dalam persatuan melawan Arung Palakka ( To Ribang La’bo’, To Simpo Mataran) yang berasal dari daerah Karunanga, suatu daerah yang terletak di bagian utara pegunungan Toraja. Orang-orang inilah yang selalu menjadi buronan pada setiap saat adanya rencana adat Barata, itupun melalui pertarungan karena orang yang diburu selalu mengadakan perlawanan sengit.

Oleh karena sering terjadi perkelahian yang hebat dalam menangkap Kurban Barat, maka sering Kurban Barata itu tidak dapat ditangkap hidup-hidup. Dalam keadaan kurban mati, maka hanya diambil kepala dari pada kurban dan dibawa ke tempat Upacara Pemakaman sebagai tanda bahwa orang yang mati ini sudah memiliki kurban manusia untuknya sebagai tanda peranannya di masyarakat pada masa hidupnya. Orang yang diupacarakan dengan adanya Kurban Barata ini dinamakan To di Pa’barataan.

Saat ini masih ada tongkonan-tongkonan yang berkuasa di Tana Toraja yang menyimpan Kepala/tengkorak Manusia yaitu tengkorak manusia Kurban Barata atau kepala yang dirampas dalam perang saudara di Tana Toraja, sebagai tanda bahwa turunan dari tongkonan ini adalah turunan pemberani serta turunannya dahulu ada yang dimakamkan dengan upacara adat Barata dan Tongkonan itu merupakan Tongkonan Penguasa yang Pemberani.

Lalu ada juga suku bangsa To Seko di Sulawesi Tengah juga mengenal kurban manusia yang disebut tandasong. Tandasong ini diantar mengelilingi suatu daerah sebelum ia dibunuh pada puncak perayaan besar. Kegiatan ini dipercaya dapat memancarkan daya hidup kurban sehingga menguntungkan seluruh daerah itu.

(Part 3 : Sumatra) https://awamisme.wordpress.com/2012/09/03/tradisi-kurban-manusia-di-nusantara-part-3-sulawesi/

Diolah dari :
Agama Asli Indonesia oleh Rahmat Subagja