TRADISI KURBAN MANUSIA DI NUSANTARA (PART 3 : Sumatra)

Tradisi kurban manusia di Sumatera

 Di Gomo, Nias, banyak situs megalitikum yang berusia diatas 3000 SM. Daerah situs ini diyakini sebagai tempat leluhur pertama suku Nias. Ada  berbagai benda megalitik disana, salah satunya adalah  batu pancung yang konon digunakan sebagai tempat mengikat tawanan atau orang yang bersalah akibat melakukan kejahatan untuk dipancung. Bila tidak ada orang yang bersalah di daerah tersebut, maka tumbal akan dicari di daerah lain.

Salah satu peninggalan megalitikum Nias

Tradisi inilah yang nampaknya menjadi latar belakang mengapa banyak peperangan terjadi di Nias dulu. Kepala tumbal manusia yang dipancung tersebut bisa digunakan sebagai pilar bangunan. Menurut kepercayaan orang Nias, pilar yang berfondasikan kepala manusia akan lebih kokoh.

Di daratan Sumatera, Tantrisme (sinkretis antara Hindu dan Buddha) berkembang sekitar abad ke 13. Paham ini kemudian terpecah menjadi beberapa aliran, salah satunya adalah aliran Bhirawayang dianut oleh Adityawarman. Bhirawa yang memiliki arti “seram dan mengerikan” , adalah aliran demonic yang menyembah Dewa Heruka. Beberapa menyebutnya sebagai aliran Budha Wajrayana.

Bagian bawah patung Adityawarman

Candi Bahal II

Candi Bahal II di Padang Lawas, 100 kilometer dari Barus, kota pelabuhan di pantai barat Sumatera, dekat Sibolga, yang pada abad 13 dan 14 juga merupakan pusat kegiatan sufi dan penyebaran agama Islam, diduga merupakan salah satu tempat upacara pemujaan Dewa Heruka. Pemujaan terhadap Dewa Heruka dalam Tantrisme Bhirawa biasa dilakukan pada malam hari di tempat pembakaran mayat.

Mayat dibakar di tempat pembakaran yang disebut ksetra dan dijadikan sajian sebagai persembahan kepada dewa mereka. Unsur utama pemujaan adalah pengurbanan nyawa manusia melalui kobaran api yang mendatangkan bau tersendiri dan bau itulah yang menimbulkan ekstase (secara harfiah berarti “melangkah keluar”, pergi melampaui diri, mengatasi pengalaman normal manusia). Semakin memualkan bau daging manusia terbakar, semakin memberi ‘kenikmatan’. Mereka membandingkan bau tersebut dengan keharuman bunga yang mampu membebaskan seseorang dari inkarnasi baru dan saamsara.

Mayat dari manusia yang dikorbankan diletakkan di tempat pemujaan dengan ditelentangkan, kaki dilipat di bawah paha, tangan terikat dan kepala didongakkan. Dengan demikian, isi perut mudah dikeluarkan. Pendeta membelah perut hingga ke rusuk bawah, lalu duduk di atasnya, merenggut jantung keluar dan memenuhi batok tengkorak manusia dengan darah. Beberapa teguk darah diminum dan dibayangkan sebagai anggur sorgawi yang lezat. Setelah itu, api unggun dinyalakan dan para penuntut aliran tenggelam dalam meditasi. Selama meditasi berlangsung, Heruka terbayang melalui kepulan asap.

Ekstase dicapai saat tengah malam tiba. Pada saat demikian, mereka menari-nari mengitari api unggun dengan ‘kentongan’ yang dibuat dari tulang belulang manusia, sambil tertawa terbahak-bahak dan mendengus-dengus seperti banteng. Makin malam, dipercaya bahwa dewa Heruka akan makin senang memperoleh sesembahan dan korban seperti itu. Upacara berakhir dengan persetubuhan massal.

Menurut Majumdar (1937: 121),  tujuan upacara pembakaran kurban manusia adalah untuk mengajarkan penganutnya bagaimana dengan melalui cara kesaktian dapat kaya, panjang umur, perkasa, tidak mempan senjata tajam, dapat hilang dari pandangan orang, dan dapat mengobati orang sakit; atau dalam bentuk yang lebih sakti lagi, apabila berulang-ulang merapal nama Buddha atau Bodhisattwa dapat mengatasi keadaan yang tidak tenang atau mendapat mukjizat untuk dilahirkan kembali dengan kekuasaan dewa yang dipuja.

Diolah dari :

http://sociopolitica.wordpress.com

Bambang Budi Utomo, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Republik Indonesia.

Iklan

TRADISI KURBAN MANUSIA DI NUSANTARA (PART 2 : Sulawesi)

 Tradisi kurban manusia di Sulawesi

Masyarakat Toraja mengenal adat Ma’ Barata (pengurbanan manusia) pada upacara Rambu Solo’ yang masih berlaku sampai masuknya Pemerintah Kolonial Belanda, adalah salah satu adat yang diadakan sebagai penghormatan serta sebagai tanda kepahlawanan/keberanian dari seorang bangsawan atau pahlawan dalam perang. Sejak masuknya kolonial Belanda, maka praktis adat ini dilarang.

Adat Ma’ Barata ini berfungsi sebagai :

1.            Tanda penghormatan kepada seseorang pahlawan yang telah mempertahankan kedaulatan negerinya dan kehormatan keluarganya serta masyarakatnya.

2.     Tanda penghormatan kepada seseorang yang mati dalam peperangan terutana   dalam perang saudara dahulu di Toraja.

3.     Tanda penghormatan kepada seseorang yang berjasa.

Adat Ma’ Barata ini dilakukan pada upacara Rapasan, dan seorang yang menjadi kurban Barata diikat tangannya dan ditambatkan pada Simbuang Batu (batu tugu peringatan pada ups Rapasan yang berdiri di tengah Rante), menunggu saatnya dipancung. Kurban Barata ini bisa laki-laki atau perempuan yang ditangkap saat perang atau jika tidak ada perang maka ditangkap dengan cara Mangaun (mengintip untuk menangkap) dari orang – orang yang telah disepakati oleh para Topadatindo. Menurut kesepakatan Topadatindo yang dipegang oleh penerusnya, yang menjadi korban Barata adalah tawanan dalam perang atau orang – orang yang tidak ikut dalam persatuan melawan Arung Palakka ( To Ribang La’bo’, To Simpo Mataran) yang berasal dari daerah Karunanga, suatu daerah yang terletak di bagian utara pegunungan Toraja. Orang-orang inilah yang selalu menjadi buronan pada setiap saat adanya rencana adat Barata, itupun melalui pertarungan karena orang yang diburu selalu mengadakan perlawanan sengit.

Oleh karena sering terjadi perkelahian yang hebat dalam menangkap Kurban Barat, maka sering Kurban Barata itu tidak dapat ditangkap hidup-hidup. Dalam keadaan kurban mati, maka hanya diambil kepala dari pada kurban dan dibawa ke tempat Upacara Pemakaman sebagai tanda bahwa orang yang mati ini sudah memiliki kurban manusia untuknya sebagai tanda peranannya di masyarakat pada masa hidupnya. Orang yang diupacarakan dengan adanya Kurban Barata ini dinamakan To di Pa’barataan.

Saat ini masih ada tongkonan-tongkonan yang berkuasa di Tana Toraja yang menyimpan Kepala/tengkorak Manusia yaitu tengkorak manusia Kurban Barata atau kepala yang dirampas dalam perang saudara di Tana Toraja, sebagai tanda bahwa turunan dari tongkonan ini adalah turunan pemberani serta turunannya dahulu ada yang dimakamkan dengan upacara adat Barata dan Tongkonan itu merupakan Tongkonan Penguasa yang Pemberani.

Lalu ada juga suku bangsa To Seko di Sulawesi Tengah juga mengenal kurban manusia yang disebut tandasong. Tandasong ini diantar mengelilingi suatu daerah sebelum ia dibunuh pada puncak perayaan besar. Kegiatan ini dipercaya dapat memancarkan daya hidup kurban sehingga menguntungkan seluruh daerah itu.

(Part 3 : Sumatra) https://awamisme.wordpress.com/2012/09/03/tradisi-kurban-manusia-di-nusantara-part-3-sulawesi/

Diolah dari :
Agama Asli Indonesia oleh Rahmat Subagja

TRADISI KURBAN MANUSIA DI NUSANTARA (Part 1 : Kalimantan)

Indonesia, banyak yang lebih suka menyebutnya Nusantara dengan euphoria akan kebangkitan bangsa yang dulu pernah diduga menjadi mercusuar juga pilar dunia. Penulis cukup sering membaca artikel tentang keluhuran bangsa ini, kemajuan teknologi, budaya dan peradabannya yang tercermin dalam kearifan lokal. Beberapa bahkan berhipotesis bahwa kemajuan peradaban Nusantara sudah dimiliki jauh sebelum kedatangan pedagang Arab, India dan China ke Nusantara. Tentu artikel-artikel tersebut sangat positif karena akan membangkitkan kecintan terhadap bangsa kita dan menyadarkan kita bahwa bangsa kita adalah yang bangsa yang besar, hebat dan berperadaban tinggi.
Namun, dalam tulisan kali ini penulis mengajak untuk melihat sisi lain dari Nusantara yang kita kenal, bukan untuk tujuan memandang negatif kebudayaan Nusantara, tapi melihat dan menyadari bahwa Nusantara dulu pernah memiliki kebudayaan yang cukup ‘buruk”.

 — TRADISI KURBAN MANUSIA DI NUSANTARA (PART 1 : Kalimantan) —

Tradisi kurban manusia di Kalimantan

Tradisi mengayau (Ngayau) adalah  tradisi adat yang identik dengan pembunuhan sadis berupa pemengalan kepala manusia untuk mendapatkan daya hidupnya sehingga bermanfaat bagi desa, pribadi maupun sebagai sebab-akibat hukum. Walaupun tradisi ini berkesan sadis, namun masyarakat Dayak, seperti Dayak Iban, memandang Ngayau adalah hal yang positif karena berhubungan dengan keberanian, simbol laki-laki juga martabat sosial.
Ngayau berasal dari kata kayau yang berarti “musuh”. J.U. Lontaan, op.cit. hal. 532. Selanjutnya, untuk mendukung pendapatnya, Lontaan mengutip Alfred Russel Wallage dalam The Malay Archhipelago, 1896: 68, “… headhunting is a custom originating in the petty wars of village with village and tribe with tribe….”

Terdapat berbagai versi etimologi ngayau. Sebagai contoh, Fridolin Ukur dalam buku Tantang Jawab Suku Daya menyebut bahwa ngayau mencari kepala musuh. Sedangkan bagi Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah, mengayau berasal dari kata “kayau” atau “kayo’; yang artinya mencari. Mengayau berarti men¬cari kepala musuh. Jadi, mengayau ialah suatu perbuatan dan tindak-budaya mencari kepala musuh.

Dalam versi Dayak Jangkang, ngayau juga disebut ngayo. Berasal dari kata “yao” yang berarti: bayang-bayang, menghantui, meniadakan, atau memburu kepala musuh sebagai prasyarat atau pesta gawai. Ada gawai khusus untuk merayakan kepala musuh dengan tarian perang, yakni gawai naja bak (pesta kepala).

Ngayau tidak terlepas dari keyakinan komunitas Dayak sebagai sebuah entitas. Hal ini dapat ditelusuri dari cerita lisan dan tradisi yang diturunkan dari mulut ke mulut. Menurut keyakinan yang dipegang teguh, orang Dayak yakin mereka adalah keturunan makhluk langit. Ketika turun ke dunia ini, menjadi makhluk yang paling mulia dan, karena itu, menjadi penguasa bumi.

Keyakinan ini, pada gilirannya, membawa konsekuensi orang Dayak lalu memandang rendah entis lain. Jika menganggu dan mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup mereka, etnis lain dapat disingkirkan. Namun, harus ada alasan yang kuat untuk itu. Darah hewan, apalagi manusia, tabu untuk ditumpahkan. Jika sampai terjadi, mereka akan menuntut balas.

Keputusan Ngayau haruslah disertai alasan-alasan yang kuat dan masuk akal. Sebelum melancarkan pengayauan, malam harinya diadakan musyawarah bersama yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut boraump. Semua peserta wajib memberikan pendapat dan penilaian. Keputusan diambil dengan berpangkal tolak pada suara dan pendapat mayoritas.

Dalam tata pelaksanaannya Ngayau juga tidaklah sembarangan, bahkan beberapa suku Dayak masih memperlakukan sang kurban dengan “cukup” manusiawi. Menurut adat Dayak Kanayatn misalnya, sebelum mengayau mereka melakukan upacara adat nyaru’ tariu (memanggil tariu) di panyugu atau pandagi (empat keramat untuk memanggil roh, mempersembahkan sesajen dan lain-lain). Tariu sendiri tidak bisa definisikan. Tetapi dengan bertariu seseorang dipercaya menjadi berani, kebal dan sakti. Teriakan tariu dapat menimbulkan efek psikologis menjatuhkan moral musuh.Upacara ini dilakukan untuk memohon kekuatan dan bantuan kepada Kamang (makhluk seperti manusia tetapi tidak kelihatan). Selesai mengayau mereka melakukan adat nyimah tanah (mencuci tanah). Hal ini dilakukan agar rasi (pertanda) yang jahat menghindari mereka.

Selain itu, mereka juga mengadakan upacara notokng (upacara menghormati kepala dan membuang dosa) sebanyak 7 turunan. Upacara ini biasa dilakukan berdasarkan permintaan orang yang dikayau. Dengan upacara notokng ini orang yang telah dikayau dihormati, seperti dimandikan, diberi makan dan ditidurkan dan pada saatnya dimakamkan dengan upacar notokng yang ketujuh (terakhir) yaitu notokng mubut.
Seorang penulis di masa Hindia Belanda, Bakker (1884) mengatakan bahwa salah satu suku Dayak yang paling ditakuti dalam dunia pengayauan adalah Dayak Jangkang.

Menurut sumber dari J.U. Lontaan (1975: 533-537) dalam Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat serta informasi yang penulis dapat dari berbagai sumber, dapat disimpulkan bahawa Ngayau dilakukan dengan tujuan :

1. Untuk kesuburan tanah. Orang Dayak sangat yakin dalam mempersembahkan kepala manusia maka hasil panen akan melimpah. Biasanya mengayau dilakukan ketika masa mendekati panen. Hasil kayauan akan dipestakan dalam gawai, pesta panen padi suku Dayak.

2. Untuk menambah kekuatan supranatural. Orang Dayak sangat mempercayai adanya kekuatan supranatural . Kekuatan tersebut adalah dalam jiwa manusia. Pusat kekuatan tersebut terdapat pada tengkorak manusia. Pemilikan atau penguasaan atas tengkorak manusia berarti penambahan jiwa bagi yang bersangkutan. Ini juga berarti menambah kesaktian. Dengan kekuatan tersebut seseorang dapat melindungi diri, keluarga dan sukunya. Miller, menulis dalam Black Borneo-nya (1946 : 121), menyatakan bahwa praktik memburu kepala bisa dijelaskan dalam kerangka kekuatan supernatural yang oleh orang-orang Dayak diyakini ada di kepala manusia. Bagi orang Dayak, tengkorak kepala manusia yang sudah dikeringkan adalah sihir yang paling kuat di dunia. Sebuah kepala yang baru dipenggal cukup kuat untuk menyelamatkan seantero kampung dari wabah penyakit. Sebuah kepala yang sudah dibubuhi ramu-ramuan bila dimanipulasi dengan tepat cukup kuat untuk menghasilkan hujan, meningkatkan hasil panen padi, dan mengusir roh-roh jahat. Kalau ternyata tak cukup kuat, itu karena kekuatannya sudah mulai pudar dan diperlukan sebuah tengkorak yang baru.

3. Untuk balas dendam. Jika ada orang Dayak dibunuh oleh orang lain, maka semua orang dalam suku pelaku tersebut harus bertanggung jawab. Ini dikenal dengan “hutang darah”

4. Untuk mas kawin seperti dalam cerita legenda Ne’ Dara Itam dan Ria Sinir. Dengan mas kawin kepala musuh dianggap menunjukan sang lelaki bisa bertanggung jawab melindungi istrinya. Banyak pihak berpendapat bahawa, “lelaki Dayak yang berhasil memperoleh kepala dalam ekspedisi ngayau akan menjadi rebutan atau kegilaan para wanita” ini kerana ia melambangkan keberanian dan satu jaminan dan kepercayaan bahawa lelaki tersebut mampu Orang Dayak dengan kepalah hasil kayauan di tangannyamenjaga keselamatan wanita yang dikawininya. Sebenarnya kenyataan itu tidak 100% tepat, malah masih dipersoalkan. Dikatakan demikian kerana menurut cerita lisan masyarakat Dayak (Iban) di Rumah-Rumah panjang, selain orang Bujang ada juga individu yang telah berkeluarga menyertai ekspedisi memburu kepala.

5. Sebagai tumbal berdirinya bangunan. Orang Dayak yakin bahwa rumah yang dibuat akan kokoh dan berarti jika diberi tumbal kepala manusia.

6. Pertahanan dari serangan suku lain. Penyerangan sebenarnya dapat diartikan sebagai bentuk pertahanan diri yang aktif dan agresif, seperti pepatah Latin si vis pacem, para bellum (jika Anda menginginkan damai, siap sedialah untuk berperang) . Dengan melakukan penyerangan terlebih dahulu maka potensi ancaman dari musuh akan berkurang sehingga sebuah suku dapat mempertahankan dan melindungi desanya.

7. Lambang kekuasaan dan status kedududan orang Dayak. Semakin banyak kepala musuh yang diperoleh semakin kuat/perkasa orang yang bersangkutan.

Jadi, dari berbagai alasan tujuan Ngayau di atas, kita bisa melihat beberapa filosofi dari Ngayau yang terkesan sadis.

Ada beberapa hal yang menyebabkan tradisi mengayau perlahan-lahan menghilang :

1. Pertemuan Tumbang Anoi.

Pertemuan ini diadakan pada 22 Mei – 24 Juli 1894 di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu, Kalimantan Tengah, atas inisiatif pemerintahan Hindia Belanda. Mereka mengumpulkan semua kepala suku dan pemuka masyarakat dari seluruh Kalimantan, termasuk dari British Borneo (Malaysia). Salah satu butir kesepakatan pada waktu adalah mengakhiri kegiatan “kayau-mengayau” diantara suku Dayak. 
Bagi pemerintahan Hindia-Belanda, hal ini perlu dilakukan karena pegawai   mereka sering menjadi sasaran pengayauan saat melaksanakan tugas ke pedalaman Kalimantan. Pertemuan ini sendiri berhasil mengurangi “kayau-mengayau” secara drastis, walaupun tidak bisa menghentikannya sama sekali. Menurut penuturan beberapa orang kegiatan pengayauan masih terjadi hingga tahuan 1960an.

2. Masuknya agama Katolik dan Kristen. Agama dibawa oleh para misionaris ini mempunyai andil yang sangat besar bagi terhentinya adat pengayauan. Ajaran cinta kasih Kristen secara jelas bertentangan dengan pengayauan. Injil melarang membunuh orang dengan alasan apapun.

3. Kesadaran orang Dayak. Masyarakat Dayak akhirnya menyadari bahwa mengayau semakin lama dirasakan merugikan karena mereka merasakan sendiri bagaimana misalnya jika anak tunggalnya dikayau suku lain, seperti yang ia lakukan.

Inilah sedikit banyak tentang Ngayau, tradisi berburu kepala manusia untuk dikurbankan dan tujuan lain, yang nyata terjadi di Kalimantan.

(Part 2: Sulawesi) https://awamisme.wordpress.com/2012/09/03/tradisi-kurban/

Diolah dari :

Edi Petebang. Dayak Sakti : Pengayauan, Tariu, Mangkok Merah, Institut Dayakologi , Pontianak
http://banuadayak.wordpress.com/2010/09/14/ngayau/
www.wikipedia.org

dan berbagai sumber lain

Pola Unik Angka 9 Juga Dimiliki Angka Lain

Suatu hari, penulis membaca postingan tentang keunikan pola perkalian angka 9 di sebuah grup diskusi. Komentar yang muncul dari member grup menyatakan kekaguman terhadapa angka 9, ada juga yang semakin suka karena itu tanggal lahirnya dan ada juga yang bilang karena nama Tuhan ada 99, Ramadhan jatuh di bulan ke-9 dll. Pola unik angka 9 ini tentu bukanlah hal yang baru, tapi karena penulis selalu saja menemukan  orang yang mengaguminya setiap waktu (dan geli melihat orang mencocologikan angka ini dengan hal lain) akhirnya penulis mencoba untuk mencari tahu seberapa spesial sih angka 9 ini?

Apa benar-benar unik sampai disebut-sebut alasan uniknya karena nama Allah ada 99?
Apa sih yang membuat angka 9 seperti ini?
Sebelumnya mari kita lihat pola-pola unik yang biasa kita temui tentang angka 9.

Pola 1 : Jumlah angka-angka hasil perkalian 9 dengan bilangan 1 s.d 9 adalah 9

9 x 1 = 09    =>   0 + 9 = 9

9 x 2 = 18   =>  1 + 8 = 9

9 x 3 = 27   =>   2 + 7 = 9

9 x 4 = 36   =>   3 + 6 = 9

9 x 5 = 45   =>   4 + 5 = 9

9 x 6 = 54   =>   5 + 4 = 9

9 x 7 = 63   =>   6 + 3 = 9

9 x 8 = 72   =>   7 + 2 = 9

9 x 9 = 81   =>   8 + 1 = 9

9 x 10 = 90   =>   9 + 0 = 9

Mari kita lihat pola di atas. Nampak bahwa hasil penjumlahan angka-angka hasil perkalian 9 adalah 9 juga. Pola ini terus berlaku hingga perkalian 9 dengan angka belasan, puluhan, ratusan, ribuan dst… dengan cara menjumlahkan angka hasil perkalian hingga menjadi satu digit saja (dan tentunya satu digit ini akan memunculkan angka 9 lagi).

Contoh :1.  9 x  11 = 99 ==> 9 + 9 = 18  (masih dua digit, lanjutkan operasi)   ==> 1 + 8 = 9

2.  9 x  26 = 234      ==>   2 + 3 + 4 = 9

3.  9 x  783 = 7074            ==>   7 + 0 + 7 + 4 = 18    à 1 + 8 = 9

4.  9 x  3967 = 35703         ==>   3 + 5 + 7 + 0 + 3 = 18     à 1 + 8 = 9

5. 9 x  67233 = 605097      ==>   6 + 0 + 5 + 0 + 9 + 7 = 27     à 2 + 7 = 9

6.   …. (silakan bereksperimen sendiri kalau ga percaya 😀 )

Waaaah…..hebat sekali angka ini, ternyata angka 9 sudah mengajarkan kita bahwa alam semesta itu simetri..!!!” *cari bahan untuk membuat artikel sains-agama ah…

Pola 2.  Hasil perkalian adalah mirroring hasil lainnya secara simetri

 9 x 1 = 09          < >      90 = 10 x 9

9 x 2 = 18          < >      81 = 9 x 9

9 x 3 = 27           < >      72 =  8 x 9

9 x 4 = 36          < >     63 = 7 x 9

9 x 5 = 45           < >      54  = 6 x 9

9 x 6 = 54           < >      45 = 5 x 9

9 x 7 = 63          < >      36 = 4 x 9

9 x 8 = 72          < >      27 = 3 x 9

9 x 9 = 81           < >      18 = 2 x 9

9 x 10 = 90          < >     90 = 10 x 9

Bagus ya polanya?

Hebat sekali angka 9 ini bisa punya pola-pola unik seperti ini, benar-benar angka yang sesuai dengan jumlah nama Allah, 99 Asmaul Husna…. 😀

Mari kita tinjau dulu ada apa dengan 2 pola di atas.

Basis perhitungan yang kita pakai sekarang adalah desimal yaitu perhitungan menggunakan 10 bilangan dasar yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9. Di dunia ini sebenarnya ada beberapa basis bilangan yang pernah digunakan dalam berbagai kebudayaan, contohnya suku Maya menggunakan vigesimal (basis 20), suku Yuki di California menggunakan octal (basis 8), Babilonia menggunakan sexagesimal (basis 60),  bangsa Chumasan menggunakan kuarter (basis 4), Saraveca menggunakan quinary (basis 5), papua Nugini menggunakan pentadesimal (basis 15) dan lain-lain.

Artinya, ada banyak basis perhitungan yang bisa digunakan manusia dalam kehidupannya, tergantung mana yang dia sukai dan kebiasaannya. Kita, karena sudah dari kecil dihadapkan dengan angka Arab dan basis bilangan desimal tentu terbiasa dengan basis ini dan segala pola perhitungannya, termasuk pola unik angka 9 tadi. Penulis sudah melakukan coret-coret sendiri , ga nyontek siapa-siapa dan menemukan bahwa pola unik angka 9 pada basis perhitungan desimal adalah karena angka 9 merupakan angka terbesar dan terakhir di deret 0 – 9.

Ternyata pola unik ini dimiliki juga oleh angka lainnya, tergantung basis bilangan yang kita pakai.
Ga percaya?

 Di bawah ini penulis berikan 2 contoh menggunakan basis octal dan septenary.  Perhatikan bahwa jumlah hasil perkalian akan selalu memunculkan angka terakhir pada basisnya dan pola mirror juga terjadi.

A.      Contoh  1 (Octal)

Octal adalah basis perhitungan menggunakan 8 bilangan dasar (0,1,2,3,4,5,6,7) dengan aliran urutan sama seperti desimal yang kita kenal, sehingga setelah angka 7 adalah 10, 11, 12 … dan seterusnya.

7 x 1 = 07    =>   0 + 7 = 7

7 x 2 = 16    =>   1 + 6 = 7

7 x 3 = 25    =>   2 + 5 = 7

7 x 4 = 34    =>   3 + 4 = 7

7 x 5 = 43    =>   4 + 3 = 7

7 x 6 = 52   =>   5 + 2 = 7

7 x 7 = 61   =>   6 + 1 = 7

7 x 10 = 70    =>   7 + 0 = 7

B.      Contoh 2 (Septenary)

Septenary adalah basis perhitungan menggunakan 7 bilangan dasar (0,1,2,3,4,5,6) dengan aliran urutan sama seperti desimal yang kita kenal, sehingga setelah angka 6 adalah 10, 11, 12 … dan seterusnya.

6 x 1 = 06    =>  0 + 6 = 6

6 x 2 = 15    =>   1 + 5 = 6

6 x 3 = 24    =>   2 + 4 = 6

6 x 4 = 33    =>   3 + 3 = 6

6 x 5 = 42    =>   4 + 3 = 6

6 x 6 = 51    =>  5 + 1 = 6

6 x 10 = 60    =>  6 + 0 = 6

Silakan dicoba sendiri untuk biner, ternary, quartenary, quinary dan yang lainnya. Hasilnya dijamin masih sama, penjumlahan hasil perkalian akan menghasilkan angka terakhir dari basis yang digunakan serta pola mirror juga masih ada.

Sebenarnya masih ada pola-pola yang unik lagi dari angka-angka. Angka dengan susunan YZ x ZY atau XYZ x ZYX atau WXYZ x ZYXW atau VWXYZ x ZYXWV dan seterusnya akan menunjukkan hasil penjumlahan operasi perkaliannya selalu memunculkan angka terakhir sesuai basisnya.

Contoh :

1.  12 x 21 = 252     =>   2 + 5 + 2 = 9

2.  15 x 51 = 765     =>   7 + 6 + 5 = 9

3.  159 x 951 = 151209     =>   1 + 5 + 1 + 2 + 0 + 9 = 18    =>   1 + 8 = 9

4. ….(ayo bereksperimen sendiri dong 😀  )

Takjub?
Jika anda langsung takjub dan mengagumi pola ini berarti anda tidak melakukan cross-check terhadap data dan informasi yang anda lihat. Pada contoh yang saya berikan memang beberapa operasi perkalian menunjukkan hasil yang selalu 9.
Tetapi jika anda melakukan percobaan sendiri, anda akan menemukan bahwa pola itu tidak dimiliki semua angka.

Contoh :
1. 13 x 31 = 403     =>   4 + 0 + 3 = 7   (bukan 9)
2. 17 x 71 = 1207    =>   1 + 2 + 0 + 7 = 10     =>   1 (bukan 9)
3. 28 x 82 = 2296     =>   2 + 2 + 9 + 6 =19     =>   20     =>   2 (bukan 9)
4. …. (masih tidak mau mencoba sendiri? )

Kesimpulan :

1.       Pola unik angka 9 terjadi bukan karena angkanya yang unik, tetapi karena basis bilangan yang digunakan adalah desimal sehingga menempatkan angka 9 pda posisi angka paling besar dan terakhir.

2.       Pola-pola unik juga dimiliki oleh bilangan terakhir dan terbesar dalam deret basis lain, seperti  kita lihat pada contoh octal dan septenary.

3.       Menghubungkan keistimewaan angka 9 dengan aspek religi, magis dan lain-lain menurut penulis hanyalah cocologi yang menguntungkan karena penggunaan basis desimal.

4.       Hal yang pada awalnya terlihat istimewa  atau unik sebenarnya bisa jadi tidak mutlak kesitimewaan dan keunikannya, jika kita menelusur lebih jauh asalnya. Seandainya basis yang kita gunakan adalah nonary (basis 9) mungkin angka yang akan muncul dan dibahas di artikel-artikel unik adalah angka 8.

5.       Pola keunikan bisa muncul pada angka dengan susunan berlawanan seperti YZ x ZY atau XYZ x ZYX atau WXYZ x ZYXW atau VWXYZ x ZYXWV , namun pada beberapa pasangan, pola tersebut nampak tidak muncul secara acak.

Jadi, masih ada yang menganggap angka 9 itu suci, spesial, angka yang mencerminkan jumlah nama Tuhan? Angka jumlah suatu kata yang disebutkan di kitab suci ?   😛

Yaah, silakan saja, toh itu cuma kebetulan saja kita menggunakan desimal…

Penulis menyukai angka 9 karena itu nilai yang cukup bagus untuk menghindari amukan orang tua jika tertulis di kertas ujian jaman SD, SMP dan SMA dulu.